Jl. Raya Serpong KM. 7 Perumahan Bukit Serpong Mas BV-315 Telp +62 (21) 29445682
Home
Contact

Article

Rabu , 11 Feb 2026 14:40:56

Peran dan Fakta Unik Gigi Susu yang Wajib Diketahui Orang Tua

Banyak orang tua merasa lega saat anak mulai tumbuh gigi. Namun, tidak sedikit yang panik saat anak rewel karena nyeri gigi. Data menunjukkan bahwa nyeri gigi adalah salah satu alasan utama orang tua memberikan obat pereda nyeri yang dijual bebas kepada anak. Hal ini menandakan betapa pentingnya kesehatan gigi sejak dini. Seringkali, peran gigi susu dianggap sepele karena akan tanggal dan digantikan gigi permanen.

Padahal, anggapan itu kurang tepat. Gigi susu memiliki fungsi yang sangat krusial bagi masa depan kesehatan mulut anak. Merawatnya dengan baik adalah investasi jangka panjang untuk senyum sehat si kecil. Artikel ini akan membahas tuntas semua yang perlu kamu ketahui tentang peran dan fakta unik gigi susu.

Kenapa Gigi Susu Sangat Penting untuk Anak?

Gigi susu, atau dalam istilah medis disebut gigi desidui, adalah set gigi pertama yang dimiliki manusia. Jumlahnya ada 20 buah dan biasanya lengkap pada usia sekitar 2-3 tahun. Meski bersifat sementara, keberadaannya memegang peranan vital yang tidak tergantikan untuk perkembangan anak secara keseluruhan.

Bukan Sekadar Gigi Sementara

Menganggap gigi susu tidak penting adalah sebuah kekeliruan besar. Gigi ini bukan hanya alat untuk mengunyah makanan pada masa kanak-kanak. Fungsinya jauh lebih kompleks dan berdampak langsung pada beberapa aspek penting dalam tumbuh kembang anak.

Tanpa gigi susu yang sehat dan lengkap, anak bisa mengalami berbagai kesulitan. Mulai dari masalah nutrisi hingga gangguan dalam perkembangan bicara. Oleh karena itu, menjaganya agar tetap sehat hingga waktunya tanggal secara alami adalah sebuah keharusan.

Menjaga Ruang untuk Gigi Permanen

Salah satu fungsi paling fundamental dari gigi susu adalah sebagai space holder atau penjaga ruang. Setiap gigi susu berada di posisi yang telah ditentukan untuk mempersiapkan jalan bagi gigi permanen yang akan tumbuh di bawahnya. Akar gigi susu menjadi pemandu bagi gigi permanen untuk keluar pada posisi yang benar.

Jika gigi susu tanggal atau dicabut terlalu dini akibat berlubang parah, ruang tersebut bisa menyempit. Gigi di sebelahnya akan bergeser mengisi celah kosong. Akibatnya, gigi permanen tidak punya cukup ruang untuk tumbuh, sehingga bisa tumbuh miring, berjejal, atau bahkan terhambat sama sekali (impaksi).

Kondisi ini seringkali menjadi penyebab utama kenapa anak membutuhkan perawatan kawat gigi (ortodonti) di kemudian hari. Mempertahankan gigi susu hingga tanggal dengan sendirinya dapat membantu meminimalkan risiko masalah susunan gigi di masa depan.

Mendukung Kemampuan Bicara dan Mengunyah

Gigi, lidah, dan bibir bekerja sama untuk menghasilkan suara saat kita bicara. Kehadiran gigi susu yang lengkap sangat penting untuk membantu anak melafalkan kata-kata dengan jelas. Kehilangan gigi depan terlalu cepat, misalnya, bisa membuat anak kesulitan mengucapkan huruf seperti ‘f’, ‘v’, atau ‘s’.

Selain itu, fungsi mengunyah tidak boleh diremehkan. Proses mengunyah yang baik membantu menghaluskan makanan agar lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan. Ini memastikan anak mendapatkan nutrisi maksimal dari makanannya. Gigi yang sakit atau ompong membuat anak malas mengunyah dan cenderung memilih makanan lunak saja.

Membentuk Struktur Wajah yang Sehat

Percaya atau tidak, gigi susu juga berperan dalam perkembangan tulang rahang dan otot wajah. Aktivitas mengunyah merangsang pertumbuhan tulang rahang agar berkembang secara normal. Struktur gigi yang lengkap membantu menopang otot pipi dan bibir, membentuk profil wajah yang harmonis.

Kehilangan banyak gigi susu sebelum waktunya dapat mengganggu keseimbangan perkembangan ini. Hal ini menunjukkan betapa terintegrasinya fungsi gigi dengan struktur anatomi wajah anak. Kesehatan gigi susu adalah fondasi untuk perkembangan wajah yang proporsional.

Proses Tumbuh dan Tanggalnya Gigi Susu: Sebuah Perjalanan Alami

Setiap anak memiliki jadwal tumbuh gigi yang unik, meskipun ada rentang waktu umum yang bisa menjadi patokan. Proses ini dimulai dari dalam kandungan dan berlanjut hingga anak memasuki usia remaja. Memahami setiap fasenya membantu kamu memberikan dukungan yang tepat untuk si kecil.

Kapan Gigi Susu Mulai Tumbuh?

Benih gigi susu sebenarnya sudah terbentuk sejak bayi masih di dalam rahim. Namun, gigi pertama biasanya baru muncul (erupsi) saat bayi berusia sekitar 6 hingga 10 bulan. Umumnya, dua gigi seri bawah adalah yang pertama kali menyapa dunia.

Setelah itu, gigi-gigi lainnya akan muncul secara bertahap. Berikut adalah urutan umum tumbuhnya gigi susu:

  • 6-12 bulan: Gigi seri tengah (bawah dan atas).
  • 9-16 bulan: Gigi seri samping (bawah dan atas).
  • 13-19 bulan: Gigi geraham pertama (bawah dan atas).
  • 16-23 bulan: Gigi taring (bawah dan atas).
  • 23-33 bulan: Gigi geraham kedua (bawah dan atas).

Pada usia sekitar 3 tahun, sebagian besar anak sudah memiliki 20 gigi susu yang lengkap. Namun, jangan khawatir jika jadwal anakmu sedikit berbeda, karena variasi beberapa bulan adalah hal yang wajar.

Tanda-tanda Tumbuh Gigi yang Perlu Diperhatikan

Proses tumbuh gigi, atau teething, bisa menjadi masa yang tidak nyaman bagi sebagian bayi. Gusi terasa gatal dan nyeri saat gigi menembus permukaannya. Beberapa tanda umum yang bisa kamu amati antara lain anak menjadi lebih rewel, sering memasukkan tangan ke mulut, dan produksi air liur berlebih.

Gusi di area gigi yang akan tumbuh mungkin juga terlihat sedikit bengkak dan kemerahan. Untuk membantu meredakan ketidaknyamanannya, kamu bisa memberikan teether yang sudah didinginkan (bukan dibekukan). Pijatan lembut pada gusi dengan jari yang bersih juga bisa membantu.

Penting untuk diingat bahwa demam tinggi atau diare bukanlah gejala normal dari tumbuh gigi. Jika anak mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter anak untuk mencari tahu penyebab sebenarnya.

Fase Gigi Tanggal (Eksfoliasi)

Seiring pertumbuhan anak, gigi permanen mulai berkembang di dalam rahang, tepat di bawah gigi susu. Proses ini mendorong akar gigi susu untuk terkikis secara perlahan (resorpsi). Akibatnya, gigi susu menjadi goyang dan akhirnya tanggal dengan sendirinya.

Proses tanggalnya gigi susu, atau eksfoliasi, biasanya dimulai sekitar usia 6 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun. Urutannya pun seringkali sama dengan urutan tumbuhnya. Gigi seri adalah yang pertama tanggal, diikuti gigi taring dan geraham.

Momen gigi tanggal seringkali menjadi pengalaman seru bagi anak. Biarkan gigi tanggal secara alami dan hindari mencabutnya dengan paksa. Pencabutan paksa bisa menyebabkan pendarahan, nyeri, dan bahkan merusak jaringan gusi di sekitarnya.

Waspada! Dampak Gigi Susu Berlubang pada Tumbuh Kembang Anak

Salah satu masalah paling umum pada gigi susu adalah karies atau gigi berlubang. Karena lapisan enamelnya lebih tipis dibandingkan gigi permanen, gigi susu lebih rentan rusak. Dampak gigi berlubang ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan anak.

Dari Lubang Kecil Menjadi Masalah Besar

Gigi berlubang disebabkan oleh bakteri yang mengubah sisa makanan manis dan karbohidrat menjadi asam. Asam ini secara perlahan mengikis enamel gigi, menciptakan lubang kecil. Jika tidak dirawat, lubang akan semakin dalam dan besar, mencapai lapisan dentin yang lebih lunak.

Pada tahap ini, anak mungkin mulai merasakan ngilu atau sensitif saat makan atau minum yang manis, dingin, atau panas. Lubang pada gigi susu bisa berkembang sangat cepat. Tanpa intervensi, kerusakan dapat dengan mudah mencapai pulpa, yaitu bagian tengah gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah.

Infeksi yang Bisa Menyebar

Ketika infeksi mencapai pulpa, anak akan merasakan sakit gigi yang hebat dan berdenyut. Kondisi ini disebut pulpitis. Jika dibiarkan, bakteri bisa menyebabkan terbentuknya abses atau kantung nanah di ujung akar gigi. Ini adalah kondisi infeksi serius yang ditandai dengan pembengkakan gusi atau bahkan wajah.

Infeksi dari gigi susu yang berlubang parah dapat merusak benih gigi permanen yang sedang berkembang di bawahnya. Hal ini bisa menyebabkan gigi permanen tumbuh dengan noda, bentuk yang tidak sempurna, atau bahkan gagal tumbuh sama sekali. Dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi gigi yang parah bahkan bisa menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah.

Pengaruh pada Nutrisi dan Berat Badan

Anak yang menderita sakit gigi cenderung kesulitan mengunyah. Rasa sakit membuat mereka menghindari makanan tertentu, terutama yang keras atau butuh kunyahan lebih. Akibatnya, mereka menjadi pemilih makanan (picky eater) dan asupan nutrisinya menjadi tidak seimbang.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat berpengaruh pada berat badan dan pertumbuhan fisik anak. Anak bisa menjadi kurang berenergi dan lebih rentan sakit karena kurangnya gizi. Kesehatan gigi yang buruk secara langsung berkorelasi dengan kesehatan tubuh secara umum.

Dampak Psikologis dan Sosial

Masalah gigi tidak hanya berdampak pada fisik. Gigi yang hitam karena berlubang atau bau mulut akibat infeksi bisa menurunkan rasa percaya diri anak. Mereka mungkin menjadi malu untuk tersenyum atau berbicara dengan teman-temannya di sekolah.

Anak bisa menjadi target ejekan, yang dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosionalnya. Sakit gigi yang konstan juga membuat anak sulit berkonsentrasi saat belajar. Menjaga kesehatan gigi susu berarti turut menjaga kesejahteraan psikologis anak.

Kapan Gigi Susu Memerlukan Perawatan Khusus?

Pencegahan adalah kunci utama, namun ada kalanya masalah tetap muncul meski sudah berhati-hati. Mengetahui kapan harus mencari bantuan profesional sangat penting untuk mencegah masalah kecil menjadi komplikasi serius. Jangan pernah menunda membawa anak ke dokter gigi jika kamu melihat tanda-tanda bahaya.

Tanda-tanda Anak Perlu ke Dokter Gigi

Kunjungan rutin setiap 6 bulan sekali adalah langkah preventif terbaik. Namun, kamu harus segera membuat janji temu jika anak menunjukkan salah satu dari gejala berikut:

  • Muncul noda putih, cokelat, atau hitam pada permukaan gigi.
  • Anak mengeluh sakit atau ngilu saat makan, minum, atau bahkan saat tidak melakukan apa-apa.
  • Gusi terlihat bengkak, merah, atau mudah berdarah saat menyikat gigi.
  • Terlihat ada lubang yang jelas pada gigi.
  • Bau mulut yang tidak hilang meski sudah menyikat gigi.
  • Anak mengalami cedera pada mulut atau gigi yang patah.

Semakin cepat masalah dideteksi, semakin mudah dan sederhana perawatannya. Menunda hanya akan membuat perawatan menjadi lebih kompleks dan mahal di kemudian hari.

Perawatan Gigi Susu Berlubang di Klinik

Jika gigi susu anak sudah terlanjur berlubang, dokter gigi memiliki beberapa pilihan perawatan tergantung tingkat keparahannya. Untuk lubang kecil yang belum dalam, perawatan yang paling umum adalah penambalan gigi (filling). Dokter akan membersihkan jaringan gigi yang rusak dan mengisinya dengan bahan tambal khusus yang aman untuk anak.

Jika lubang sudah mencapai ruang pulpa, mungkin diperlukan perawatan pulpa (pulpotomi atau pulpektomi). Prosedur ini mirip dengan perawatan saluran akar pada orang dewasa, namun disesuaikan untuk struktur gigi susu. Tujuannya adalah untuk menghilangkan infeksi dan mempertahankan gigi selama mungkin.

Pencabutan gigi menjadi pilihan terakhir, hanya dilakukan jika gigi sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jika pencabutan dini terpaksa dilakukan, dokter gigi di Sozo Dental Clinic mungkin akan merekomendasikan pemasangan space maintainer untuk menjaga ruang bagi gigi permanen.

Pencegahan Jauh Lebih Baik

Klinik gigi tidak hanya untuk mengobati, tetapi juga untuk mencegah. Ada beberapa perawatan preventif yang sangat efektif untuk melindungi gigi susu. Salah satunya adalah aplikasi fluorida topikal, yang berfungsi memperkuat enamel gigi dan membuatnya lebih tahan terhadap asam.

Perawatan lain yang sangat direkomendasikan adalah dental sealant. Ini adalah lapisan pelindung tipis yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi geraham. Permukaan gigi geraham memiliki banyak celah dan lekukan (fisura) yang sulit dibersihkan sikat gigi dan menjadi tempat favorit bakteri. Sealant menutup celah ini dan mencegah sisa makanan terperangkap.

Kamu bisa mendapatkan layanan aplikasi fluorida dan dental sealant di Sozo Dental Clinic untuk memberikan perlindungan ekstra bagi senyum si kecil. Perawatan ini cepat, tidak sakit, dan sangat efektif dalam mencegah gigi berlubang.

Konsultasi Pertumbuhan Gigi Anak

Selain memeriksa adanya lubang, kunjungan rutin ke dokter gigi juga penting untuk memantau proses tumbuh kembang gigi dan rahang anak. Dokter gigi akan memeriksa apakah gigi tumbuh pada waktunya, apakah ruang untuk gigi permanen cukup, dan apakah ada potensi masalah gigitan (oklusi) di masa depan.

Deteksi dini terhadap masalah seperti gigi berjejal atau rahang yang tidak simetris memungkinkan intervensi lebih awal. Terkadang, perawatan ortodonti sederhana pada usia dini dapat mencegah kebutuhan perawatan yang lebih rumit saat remaja. Dokter gigi dapat memberikan saran terbaik sesuai kondisi unik anakmu.

Jaga Senyum Sehat Si Kecil Bersama Sozo Dental Clinic

Kesehatan gigi susu adalah fondasi yang kokoh untuk kesehatan mulut seumur hidup. Merawatnya dengan benar bukan hanya mencegah sakit gigi, tetapi juga mendukung perkembangan fisik, nutrisi, bicara, dan kepercayaan diri anak. Jangan pernah meremehkan peran penting gigi mungil ini.

Membangun kebiasaan baik sejak dini, seperti menyikat gigi dua kali sehari dan kunjungan rutin ke dokter gigi, adalah hadiah terbaik yang bisa kamu berikan. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang pertumbuhan gigi anak atau melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk mencari bantuan ahli.

sumber : https://www.sozodental.com/artikel/gigi-susu/


©2018 www.grahamaya.com, All Right Reserved